Jumat, 27 Juni 2008

BC Gorbes

Dulu entah berapa puluh tahun yang lalu, ‘om’ saya BC Gorbes pernah mengatakan :
“Ukuran tubuhmu tidak penting. Ukuran otakmu cukup penting. Ukuran hatimu itulah yang terpenting”. Ungkapan yang sangat bijak ini selalu terngiang-ngiang dalam ingatan saya, sehingga saya saat ini terangsang untuk menuliskannya buat anda.


Ukuran tubuhmu tidak penting:
Saya sangat mengamini kalimat pertama ini sebab dulu sewaktu masih remaja saya ingin agar dapat menjadi orang yang tinggi besar, tapi ternyata perkembangan tubuh saya berhenti sampai segini ini. Saya hanya memiliki tinggi badan 165 cm dan berat 55 kg. Termasuk ukuran rata-rata orang Indonesia edisi lama, tapi untuk berkomunikasi dengan anak muda sekarang, terpaksa saya harus agak menengadah.
Saya juga ingin menjadi orang yang tinggi besar agar setidaknya ditakuti oleh pencopet, walaupun koruptor tidak mungkin merasa takut.
Untunglah ‘om’ BC Gorbes mengingatkan saya bahwa ukuran tubuh itu tidak penting, sehingga saya selalu dapat mensyukuri ukuran tubuh saya apa adanya.


Ukuran otakmu cukup penting:
Oleh sebab itu selama kita masih hidup, mari kita upgrade terus kemampuan otak kita. Kita dapat menggunakan internet sebagai sumber pengetahuan yang tidak terbatas. Sayang sekali kalau internet hanya digunakan untuk mengakses hal-hal yang negatif. Kepada anak-anak muda saya senantiasa menganjurkan untuk memanfaatkan masa mudanya dengan baik, gunakan untuk belajar…. belajar… dan belajar. Usahakan untuk menguasai bahasa Inggris dan komputer serta internet. Dengan menguasai itu kalian akan dapat menguasai dunia.


Ukuran hatimu itulah yang terpenting:
Nah ini kalimat yang sering diungkapkan oleh tokoh-tokoh agama. Mari kita selalu menjaga hati kita, mari kita senantiasa mendengarkan suara hati nurani kita. Percuma kita mempunyai badan yang bagus disertai otak yang sekelas pentium 4 core 2 duo, apabila hati kita kotor, sehingga nantinya akan mengantar kita ke neraka. Yah sekalipun tidak ada orang yang dapat membuktikan bahwa neraka itu ada, bahkan melalui internet pun kita tidak dapat melihat neraka, tapi saya yakin bahwa neraka itu memang ada.

Rabu, 25 Juni 2008

Blog pertama saya

Terima kasih Tuhan, akhirnya blog pertama saya ini lahir juga.

Sudah cukup lama saya menggunakan internet untuk browsing, chatting, download, masuk forum, email dan gabung dengan groupmail, serta blog walking tapi belum pernah terpikir untuk menjadi blogger.

Beberapa hari yang lalu saya mulai berpikir untuk melangkah lebih jauh, membuat blog di pondok gratisan ini sebelum nantinya mencari pondok sewaan di dotcom.

Semula saya ingin memberi nama blog ini dengan nama "gablog", yang mengadopsi dari kata-kata "gaptek" sebab saya merasa masih gagap dalam bidang blogging ini. Tapi karena saya ingin maju, tidak ingin gagap terus dalam blog ini, akhirnya saya beri nama "tansa" yang merupakan singkatan nama kecil saya.

Sampai saat ini sebenarnya saya masih bingung dengan thema blog saya, apa yang akan saya tulis di blog ini?, artikel apa yang akan saya posting disini? Tapi daripada saya terus berkutat dalam keragu-raguan, akhirnya saya beranikan diri untuk menginjakkan langkah pertama, membuat blog yang sangat sederhana. Selanjutnya saya cenderung untuk mengikuti arus air..... mengalir..... dan mengalir...... Semoga saja blog saya ini tidak lahir terlalu prematur.

Untuk blogger senior saya mohon petunjuk, bimbingan dan pencerahannya. Untuk rekan-rekan netter yang belum menjadi blogger, saya mengajak anda semua untuk melangkah kesini sebab menurut ramalan "New wave marketing" 10 tahun sampai 12 tahun mendatang posisi TV sebagai peraup iklan terbesar akan sangat menurun dan digantikan oleh internet. Kalau langkah awal ini tidak segera kita mulai..... kapan lagi?

Ok, sekian dulu posting perdana saya. Terima kasih untuk anda yang telah mau berkunjung ke blog sederhana ini.